Rabu, 28 Desember 2011

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN

I. UMUM
           
P3K merupakan sebuah pengetahuan dan keterampilan karena jika kita hanya mengetahui teorinya saja tanpa melakukan latihan atau praktek, maka mental kita tidak terlatih ketika kita benar-benar menghadapi kejadian sebenarnya. Sebaliknya jika kita langsung praktek tanpa membaca teori kemungkinan besar kita akan melakukan pertolongan yang salah pada korban
Sebagai seorang pecinta alam, materi ini penting untuk dipelajari, karena kondisi alam seringkali tidak dapat diduga dan sangat mungkin terjadi kecelakaan yang tidak kita harapkan. Sedangkan tenaga medis, sarana dan prasarana kesehatan sulit untuk dijangkau. Maka satu-satunya pilihan adalah mencoba melakukan pertolongan sementara pada korban kerumah sakit atau dokter terdekat.

II. MAKSUD, KEGUNAAN DAN TUJUAN P3K
v Maksud P3K adalah untuk memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan ditempat kejadian dengan cepat dan tepat sebelum tenaga medis datang atau sebelum korban dibawa kerumah sakit agar kejadian yang lebih buruk dapat dihindari.
v Kegunaan materi ini secara khusus adalah untuk membekali setiap anggota KMPA FISIP Unsoed agar dapat memberikan pertolongan pertama dilapangan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
v Tujuannya adalah mencegah maut dan mempertahankan hidup, mencegah penurunan kondisi badan atau cacat.

III. SIKAP, KEWAJIBAN DAN WILAYAH SEORANG PENOLONG
v  Sikap penolong :
1.      Tidak panic, bertindak cekatan, tenang tidak terpengaruh keluhan korban jangan menganggap enteng luka yang diderita korban.
2.      Melihat pernapasan korban jika perlu berikan pernapasan buatan.
3.      Hentikan pendarahan, terutama luka luar yang lebar.
4.      Perhatikan tanda-tanda shock.
5.      janganterburu-buru memindahkan korban, sebelum kita dapat menentukan jenis dan keparahan luka yang dialami korban.

v Kewajiban Penolong :
1.      Perhatikan keadaan sekitar tempat kecelakaan
2.      Perhatikan keadaan penderita
3.      Merencanakan dalam hati cara-cara pertolongan yang akan dilakukan
4.      Jika korban meninggal beritahu polisi atau bawa korban kerumah sakit
5.       
v Wilayah Penolong:
Pertolongan pertama pada kecelakaan sifatnya semantara. Artinya kita harus tetap membawa korban ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk pertolongan lebih lanjut dan memastikan korban mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.

IV. TEKNIK DALAM P3K

A.    Prioritas dalam P3K
Urutan tindakan secara umum:
1.  Cari keterangan penyebab kecelakaan
2.  Amankan korban dari tempat berbahaya
3.  perhatikan keadaan umum korban; gangguan pernapasan, pendarahan dan kesadaran.
4.  segera lakukan pertolongan lebih lanjut dengan sarana yang tersedia.
5.  apabila korban sadar, langsung beritahu dan kenalkan.

Selain itu ada juga yang dinamakan prinsip life saving, artinya kita melakukan tindakan untuk menyelamatkan jiwa korban (gawat darurat) terlebih dahulu, baru kemudian setelah stabil disusul tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang lain. Gawat darurat adalah suatu kondisi dimana korban dalam keadaan terancam jiwanya, dan apabila tidak ditolong pada saat itu juga jiwanya tidak bisa terselamatkan.

B.     Pembalutan
Tujuan dari pembalutan adalah untuk mengurangi resiko kerusakan jaringan yang telah ada sehingga mencegah maut, menguangi rasa sakit, dan mencegah cacat serta infeksi.

Kegunaan pembalutan adalah:
1. menutup luka agar tidak terkena cahaya, debu, kotoran, dll.
2. melakukan tekanan
3. mengurangi atau mencegah pembengkakan
4. membatasi pergerakan
5. mengikatkan bidai.

Macam-macam pembalutan:
1. Pembalutan segitiga atau mitela
Pembalut segitiga dibuat dari kain putih yang tidak berkapur (mori), kelihatan tipis, lemas dan kuat. Bisa dibuat sendiri, dengan cara memotong lurus dari salah satu sudut suatu kain bujur sangkar yang panjang masing-masing sisinya 90 cm sehingga diperoleh 2 buah pembalut segitiga.



2. Pembalut Plester
Digunakan untuk merekatkan kain kassa, balutan penarik (patah tulang, sendi paha/ lutut meradang), fiksasi (tulang iga patah yang tidak menembus kulit), Beuton (alat untuk merekatkan kedua belah pinggir luka agar lekas tertutup).
3. Pembalut Pita Gulung.
4. Pembalut Cepat.
Pembalut ini siap pakai terdiri dari lapisan kassa steril, dan pembalut gulung.

Indikasi pembalutan:
Menghentikan pendarahan, melindungi bakteri/kuman pada luka, mengurang rasa nyeri.

Bentuk dan anggota tubuh yang dibalut:
1. Bundar, pada kepala.
2. Bulat panjang tapi lonjong, artinya kecil ke ujung, besar ke pangkal, pada lengan bawah dan betis
3. Bulat panjang hamper sama ujung dengan pangkalnya, pada leher, badan, lengan atas, jari tangan.
4. Tidak karuan bentuknya, pada persendian

C.    Pembidaian
Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan (fiksasi) tulang yang patah. Tujuannya, menghindari gerakan yang berlebihan pada tulang yang patah. Syarat pemasangan bidai:
1. Bidai harus melebihi dua persendian yang patah
2. Bidai harus terbuat dari bahan yang kuat, kaku dan pipih.
3. Bidai dibungkus agar empuk.
4. Ikatan tidak boleh terlalu kencang karena merusak jaringan tubuh tapi jangan kelonggaran.

Alat-alat bidai:
1. Papan, bamboo, dahan
2. Anggota badan sendiri
3. Karton, majalah, kain
4. Bantal, guling, selimut


D.    Pernafasan buatan
Sering disebut bantuan hidup dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru (RJP) intinya adalah melakukan oksigenasi darurat. Dilakukan pada kecelakaan:
1. Tersedak,
2. Tenggelam
3. Sengatan Listrik,
4. Penderita tak sadar,
5. Menghirup gas dan atau kurang oksigen,
6. serangan jantung usia muda, henti jantung primer tejadi.

Fase RJP:
A = Airway control (pengeuasaan jalan napas),
B = Breathing support (ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat)
C = Circulation (pengenalan ada tidaknya denyut nadi)
Untuk teknik RJP dapat dilihat pada lampiran gambar.

E.     Evakuasi dan Transportasi
Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban dari lokasi kecelakaan ke tempat lain yang lebih aman dengan cara-cara yang sederhana di lakukan di daerah-daerah yang sulit dijangkau dimulai setelah keadaan darurat. Penolong harus melakukan evakuasi dan perawatan darurat selama perjalanan.
Cara pengangkutan korban:
1. Pengangkutan tanpa menggunakan alat atau manual
Pada umumnya digunakan untuk memindahkan jarak pendek dan korban cedera ringan, dianjurkan pengangkatan korban maksimal 4 orang
2. Pengangkutan dengan alat (tandu)

Rangkaian pemindahan korban:
1. persiapan,
2. pengangkatan korban ke atas tandu,
3. pemberian selimut pada korban
4. Tata letak korban pada tandu disesuaikan dengan luka atau cedera.
Prinsip pengangkatan korban dengan tandu:
1. pengangkatan korban,
Harus secara efektif dan efisien dengan dua langkah pokok; gunakan alat tubuh (paha, bahu, panggul), dan beban serapat mungkin dengan tubuh korban.
2. Sikap mengangkat.
Usahakan dalam posisi rapi dan seimbang untuk menghindari cedera.
3. Posisi siap angkat dan jalan.
Biasanya posisi kaki korban berada di depan dan kepala lebih tingi dari kaki, kecuali;
-menaik, bila tungkai tidak cedera,
-menurun, bila tungkai luka atau hipotermia,
-mengangkut ke samping,
-memasukan ke ambulan kecuali dalam keadaan tertentu
-kaki lebih tinggi dalam keadaan shock.

TRANSPORTASI
Merupakan kegiatan pemindahan korban dari tempat darurat ke tempat yang fasilitas perawatannya lebih baik, seperti rumah sakit. Biasanya dilakukan bagi pasien/ korban cedera cukup parah sehingga harus dirujuk ke dokter.
Tata cara pemindahan korban:
a. Dasar melakukan pemindahan korban; aman, stabil, cepat, pengawasan korban, pelihara udara agar tetap segar.
b. Syarat pemindahan korban:
1. korban tentang keadaan umumnya cukup baik
2. tidak ada gangguan pernapasan
3. pendarahan sudah di atasi
4. luka sudah dibalut
5. patah tulang sudah dibidai
Sepanjang pelaksanaan pemindahan korban perlu dilakukan pemantauan dari korban tentang:
- Keadaan umum korban
- Sistem persyarafan (kesadaran)
- Sistem peredaran darah (denyut nadi dan tekanan darah)
- Sistem pernapasan
- Bagian yang mengalami cedera.
V. BEBERAPA KECELAKAAN DAN PERTOLONGANNYA
1.Pingsan
Yaitu korban tidak sadarkan diri tetapi nafasnya ada.
Macam-macam pingsan:
a. Pingsan karena sengatan matahari
Gejalanya: penghentian keringat yang tiba-tiba, korban lemah, sakit kepala, tidak dapat berjalan tegak, suhu tubuh 40-41ÂșC, pernapasan cepat dan tidak teratur.
Pertolongan: baringkan ditempat teduh dan banyak angin, komperes seluruh tubuh dengan air dingin, usahakan agar tidak mengigil dengan memijat kaki dan tangan, bila keadaan tidak membaik bawa kerumah sakit.
b. Pingsan karena kelelahan/ kelaparan
Gejalanya: Kedinginan dan berkeringat, lemah, pandangan berkunang-kunang, kesadaran menurun.
Pertolongan: baringkan ditempat datar, letakkan kepala lebih rendah dari kaki,buka baju bagian atas, dan kendurkan pakaian yang menekan. Bila muntah miringkan kepala, beri bau-bauan yang merangsang, setelah sadar beri minuman air gula.

2. Shock
Yaitu: peredaran darah terganggu karena kekurangan cairan sehingga mengakibatkan terganggunya alat tubuh.
Gejalanya: kesadaran menurun, denyut nadi cepat >140/menit dan semakin lama melambat bahkan hilang, penderita mual, kbadan dingin, lembab&pucat,napas tidak teratur, pandangan kosong,tidak bercahaya, pupil melebar.
Pertolongan: Baringkan kepala lebih rendah dari kaki kecuali gegar otak, tarik lidah penderita keluar, bersihkan hidung dan mulut dari sumbatan, selimuti, hentikan pendarahan bila ada patah tulang pasang bidai, bawa keRS
3. Keseleo
    Keadaan dimana persendian keluar dari sendinya, lalu kembali lagi.
    Pertolongannya:
     -Istirahatkan korban dengan letak keseleo ditnggikan
     -Boleh dikomperes air hangat dan urut hati-hati
     -Bila lutut dipasang kness dekker, lakukan pembalutan agar keras pada bagian lain
     -Bawa ke RS untuk memastikan apakah ada retak atau patah tulang
4. Patah tulang
Menurut kontaminasinya:
a.   patah tulang tertutup: ujung tulang tak berada di luar
 tanda-tanda: gerakan tak normal, tambahan     adanya bengkak, sakit bila digerak.
Pertolongan: usahakan tulang yang patah tidak bergerak dengan memasang bidai dan bawa keRS.
b. Patah tulang terbuka: ujung tulang berada di luar.
    Tanda-tanda: tulang mencuat keluar, menjadi kotor, pendarahan sulit dihentikan.
Pertolongan: mencuci luka dengan air bersih, tulang yang keluar dimasukan, tutup dengan kassa steril, gunakan anti septic, pasang perban elastic dan setelah selesai pasang bidai dan langsung transportasi.
Jenis patah tulang terbuka:
3.1. patah tulang belakang,
    Sulit ditentukan bila keliru akan fatal
Pertolongan: bila korban jatuh atau jatuh terduduk yang keras dan mengeluh sakit di punggung dan nyeri jika ditekan maka korban tidak boleh duduk, punggung harus tetap datar dan di transportasi dalam keadaan telentang dan di bidai.
3.2. Patah tulang panggul.
    Sulit menentukannya
Pertolongan: bila korban jatuh terduduk atau miring dan mengeluh nyeri dan sakit untuk duduk, maka langsung saja di transportasi dalam keadaan berbaring.
3.3. Patah tulang rusuk.
    Tanda-tanda: ada trauma, untuk bernapas dalam sakit, nyeri tekan napas tertahan.
Pertolongan: hati-hati jangan sampai mengangkat dengan menekan daerah dada karena bisa jadi patahan tulang rusuk menembus paru-paru ynag akan berakibat fatal. Dapat dibantu dengan pemasangan plester lebar dari punggung, memutar ke dada, secara perlahan langsung transportasi ke RS, korban dalam keadaan duduk atau berbaring asal bagian yang patah tidak tertekan.
3.4. Patah tulang kecil-kecil.
Pertolongan: untuk meta karpal dan jari-jari tangan, korban menggenggam bola karsa kemudian dibalut dengan elastic perban. Tetapi untuk metatarsalia dan jari-jari kaki cukup langsung dipasang perban elastic.
 5. Penyakit Penggunungan (Mountain Sickness)
Terjadi pada ketinggian 2000 mdpl reaksinya tergantung pada daya tahan tubuh orang yang bersangkutan:
a. Penyakit kegunungan yang akut.
Gejala: penderita measa pusing, sakit kepala, lelah, mengantuk, kedinginan, mual, dan muntah-muntah, pucat, sesak, gelisah, susah konsentrasi, susah tidur. Hal ini karena oksigen daam tubuh berkurang.
Pertolongan: Istirahatkan selama 24 s.d. 48 jam, bila tidak ada perubahan turunkan ke tempat yang lebih rendah.
b.      Penyakit pegunungan akut disertai kelainan paru-paru.
Terjadi pada ketinggian diatas 3000 mdpl, Gejala: munculnya 36 jam setelah tiba di tempat tersebut.
Tanda-tanda: batuk kering, bahkan batuk berdarah, seesak napas, dada terasa teretekan denyut nadi makin cepat, penderita pucat, membiru kemudian pingsan.
Pertolongan: baringkan dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya, berikan pernapasan buatan bila perlu, turunkan penderita ke tempat yang lebih rendah, bawa ke RS.
6. Luka bakar.
Luka disebabkan karena api, benda-benda panas, air panas, liran listrik, dan bahan kimia.
Derajat Luka Bakar:
Derajat I: hanya mengenai permukaan (epidermis), berupa warna kemerahan pada kulit, ada rasa nyeri, biasanya sembuh spontan dalam waktu 7-10 hari.
Derajat II: mengenai lapisan dermis, terjadi gelembung berisi cairan, terasa nyeri, dengan peralatan baik sembuh dalam waktu 10-14 hari.
Derajat IIB: mengenai dermis bagian dalam, gelembung-gelembung biasanya pecah, warna pucat, rasa nyeri, embuh lma dan menimbulkan bekas.
Derajat III: seluruh lapisan kulit rusak, sembuh lama dan menimbulkan cacat yang hebat.
Luka bakar harus melihat pada derajat kedalaman, permukaan, dan luas luka bakar tersebut. Bahaya luka bakar luas adalah kondisi dehidrasi yang mengancam jiwa penderita.
Pertolongan: Pertama, kita harus membebaskan tubuh penderita dari bahan penyebab. Daerah yang terbakar cukup cukup di rendam/ di siram dengan air dingin (jangan air es) karena akan menambah sakit. Luka bakar yang luas perlu segera mendapatkan tambahan cairan untuk mencegah dehidrasi, jika wilayah terbakar > 10% penderita harus dirawat di RS.
7. Tenggelam.
Pertolongan beri pernapasan buatan, raba denyut nadi leher, bila tidak teraba lakukan pijatan jantung dengan cara menekan atau memukul dada korban denga telapak tangan, melakukan sampai korban sadar, kosongkan air dalam perut dengan memiringkan kepala korban sedikit lebih rendah dari perut, kemudian letakan ke atas belakang hingga air keluar dari mulut.
8. Benda Asing yang Masuk Kedalam Tubuh
    a. Benda asing dihidung, misalnya pacet.
        Caranya:
- Letakkan segelas  air dingin didepan rongga agar pacet keluar atau meneteskan air tembakau kehidung
- Setelah pacet melepaskan gigitannya, tarik dengan pinset
     b. Benda asing ditelinga, misalnya serangga.
        Caranya:
        - teteskan beberapa tetes minyak tanah
        -Beri air hangat
9. Gigitan Binatang
    Binatang jika mengigit akan menimbulkan 3 masalah yaitu:
    a. Perlukaan cara mengatasi:
            - mencuci luka sampai bersih dengan air (steril).
            - Menghilangkan adanya benda asing
            - membuang jaringan yang mati
            - memberikan anti septic
            - menjahit luka.
    b. Infeksi cara mengatasi berikan anti serum.
c.   Keracunan,cara mengatasi:
            - tenangkan penderita agar tidak cepat menjalar,
            - baringkan penderita dengan posisi yang lebih rendah dari jantung
            - memberikan ikatan yang kuat di atas dan bawah tempat yang digigit
            - cuci sampai bersih
            - istirahatkan tempat yang digigit
            - menghindari manipulasi (pijit-pijit)
            - kirim ke RS
*   Contohnya:
a. Digigit ular
    racun ini bersifat merusak sel setelah 4 jam, racun akan menjalar keseluruh tubuh.
    Pertolongannya :
·     Pada Perlukaan
-      Memberikan tekanan pada sumber pendarahan
-      Mencuci luka sampai bersih dengan air steril
-      Menghilangkan benda asing pada luka
-      Membuang jaringan yang sudah mati
-      Memberikan antiseptic
-      Menjahit luka
-      Menutup luka dengan kasa steril
·     Bahaya infeksi
-  Sama dengan perlukaan
-  Berikan suntikan ATS
·     Pada keracunan
-  Baringkan penderita dengan posisi lebih rendah dari jantung
-  Usahakan penderita tetap tenang, agar tidak cepat menjalar
-      Memberi ikatan yang kuat atas dan bawah dari tempat yang digigit dengan 10cm, kendorkan setiap ¼ jam sekali selama ½ menit
-      Mengistirahatkan bagian yang digigit
-      Hindari manipulasi dengan pijit-pijit
-      Bawa kerumah sakit
b. Digigit pacet
    Ludah lintah atau pacet mengandung zat anti pembekuan darah, sehingga darah mengalir terus-menerus melalui beku luka yang menyebabkan gatal-gatal dan terjadi pembengkakan.
    Pertolongannya:
    Lepaskan pacet dengan membawa/meneteskan air tembakau ketubuh lintah, kemudian gosok bekas gigitan dengan salep anti gatal.
c. Digigit serangga
    Dapat menimbulkan pembengkakan, merah dan rasa sakit
    Pertolongannya:
    - Sengatan serangga diambil
    - Bekas gigitan digosok dengan salep anti gatal (reason)
    -beri obat penahan sakit (aspirin,antalgin,dsb)
10.Keracunan makanan.
Pertolongan:
-   usahakan penderita muntah dengan memekan langit-langit tenggorokan dengan jari melalui mulut.
-   Setelah muntah beri norit / arang ditumbuk halus
-   Bila perlu diberikan napas buatan.

V1. PENGENALAN OBAT-OBATAN


  OBAT LUAR                                      

  1. Rivanol
  2. Plester
  3. Betadine
  4. Minyak kayu putih
  5. Alkohol
  6. Tetes mata
  7. Bioplasenton
  8. Counterpain
  9. Kapas
  10. Pembalut
  11. Oxycan


OBAT DALAM

  1. CTM
  2. Paracetamol/Antalgin
  3. Norit & Susu
  4. Promag
  5. Napacin
  6. Enterostop

LUKA BAKAR

A.     Definisi
Luka bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas (thermal), kimia, elektrik, dan radiasi.
B.     Patofisiologi
v  Berat ringannya luka bakar tergantung pada faktor, agent, lamanya terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan dengan trauma, usia dan kondisi penyakit sebelumnya.
v  Derajat luka bakar terbagi menjadi tiga bagian; derajat satu (superficial) yaitu hanya mengenai epidermis dengan ditandai eritema, nyeri, fungsi fisiologi masih utuh, dapat terjadi pelepuhan, serupa dengan terbakar mata hari ringan.  Tampak 24 jam setelah terpapar dan fase penyembuhan 3-5 hari.  Derajat dua (partial) adalah mengenai dermis dan epidermis dengan ditandai lepuh atau terbentuknya vesikula dan bula, nyeri yang sangat, hilangnya fungsi fisiologis.  Fase penyembuhan tanpa infeksi 7-21 hari.  Derajat tiga atau ketebalan penuh yaitu mengenai seluruh lapisan epidermis dan dermis, tanpa meninggalkan sisa-sisa sel epidermis untuk mengisi kembali daerah yang rusak, hilangnya rasa nyeri, warnanya dapat hitam, coklat dan putih, mengenai jaringan termasuk (fascia, otot, tendon dan tulang).
v  Fisiologi syok pada luka bakar akibat dari lolosnya cairan dalam sirkulasi kapiler secara massive dan berpengaruh pada sistem kardiovaskular karena hilangnya atau rusaknya kapiler, yang menyebabkan cairan akan lolos atau hilang dari compartment intravaskuler kedalam jaringan interstisial.  Eritrosit dan leukosit tetap dalam sirkulasi dan menyebabkan peningkatan hematokrit dan leukosit.  Darah dan cairan akan hilang melalui evaporasi sehingga terjadi kekurangan cairan.
v  Kompensasi terhadap syok dengan kehilangan cairan maka tubuh mengadakan respon dengan menurunkan sirkulasi sistem gastrointestinal yang mana dapat terjadi ilius paralitik, tachycardia dan tachypnea merupakan kompensasi untuk menurunkan volume vaskuler dengan meningkatkan kebutuhan oksigen terhadap injury jaringan dan perubahan sistem.  Kemudian menurunkan perfusi pada ginjal, dan terjadi vasokontriksi yang akan berakibat pada depresi filtrasi glomerulus dan oliguri.
v  Repon luka bakar akan meningkatkan aliran darah ke organ vital dan menurunkan aliran darah ke perifer dan organ yang tidak vital.
v  Respon metabolik pada luka bakar adalah hipermetabolisme yang merupakan hasil dari peningkatan sejumlah energi, peningkatan katekolamin; dimana terjadi peningkatan temperatur dan metabolisme, hiperglikemi karena meningkatnya pengeluaran glukosa untuk kebutuhan metabolik yang kemudian terjadi penipisan glukosa, ketidakseimbangan nitrogen oleh karena status hipermetabolisme dan injury jaringan.
v  Kerusakan pada sel daerah merah dan hemolisis menimbulkan anemia, yang kemudian akan meningkatkan curah jantung untuk mempertahankan perfusi.
v  Pertumbuhan dapat terhambat oleh depresi hormon pertumbuhan karena terfokus pada penyembuhan jaringan yang rusak.
v  Pembentukan edema karena adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan pada saat yang sama terjadi vasodilatasi yang menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler.  Terjadi pertukaran elektrolit yang abnormal antara sel dan cairan interstisial dimana secara khusus natrium masuk kedalam sel dan kalium keluar dari dalam sel.  Dengan demikian mengakibatkan kekurangan sodium dalam intravaskuler.
Skema berikut menyajikan mekanisme respon luka bakar terhadap injury pada anak/orang dewasa dan perpindahan cairan setelah injury thermal.

Dalam 24 jam pertama
Luka Bakar

Meningkatnya permeabilitas kapiler

Hilangnya plasma, protein, cairan dan elektrolit dari volume sirkulasi
ke dalam rongga interstisial :
hypoproteinemia, hyponatremia, hyperkalemia

Hipovolemi

Syok


Mobilisasi kembali cairan setelah 24 jam
Edema jaringan yang terkena luka bakar


Compartment intravaskular


Hypervolemia, hypokalemia, hypernatremia





Menentukan luka bakar menurut Lund dan Browder :

Tingkat Usia
Area luka bakar
0-1 Tahun
1-4 Tahun
5-9 Tahun
10-14 Tahun
15 Tahun
Dewasa
2 %
3 %
Total
Kepala
19
17
13
11
9
7



Leher
2
2
2
2
2
2



Dada
13
13
13
13
13
13



Punggung
13
13
13
13
13
13



Lengan kanan atas
4
4
4
4
4
4



Lengan kiri atas
4
4
4
4
4
4



Lengan kanan bawah
3
3
3
3
3
3



Lengan kiri bawah
3
3
3
3
3
3



Tangan kanan
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Tangan kiri
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Genetalia
1
1
1
1
1
1



Bokong kanan
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Bokong kiri
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Paha kanan
5,5
6,5
8
8,5
9
9,5



Paha kiri
5,5
6,5
8
8,5
9
9,5



Tungkai kanan
5
5
5,5
6
6,5
7



Tungkai kiri
5
5
5,5
6
6,5
7



Kaki kanan
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5



Kaki kiri
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5









Total






A.     Komplikasi
v  Syok hipovolemik
v  Kekurangan cairan dan elektrolit
v  Hypermetabolisme
v  Infeksi
v  Gagal ginjal akut
v  Masalah pernapasan akut; injury inhalasi, aspirasi gastric, pneumonia bakteri, edema.
v  Paru dan emboli
v  Sepsis pada luka
v  Ilius paralitik
Berat ringannya luka bakar dari American Burn Association dalam Whaley and Wong, (1999) adalah sebagai berikut :
1.        Luka bakar minor adalah luka bakar kurang dari 10% luas permukaan tubuh.
2.        Luka bakar moderate adalah luka bakar 10-20 % luas permukaan tubuh.
3.        Luka bakar mayor adalah luka bakar lebih dari 20 % luas permukaan tubuh.


B.     Etiologi
v  Thermal; air panas, api, panas permukaan
v  Kimia; asam, alkali dan lainnya
v  Radiasi; terapi dan sinar ultraviolet
v  Elektrik
C.     Manifestasi Klinis
v  Riwayat terpaparnya
v  Lihat derajat luka bakar
v  Status pernapasan; tachypnea, tekanan nadi lemah, hipotensi, menurunnya pengeluaran urine atau anuri.
v  Perubahan suhu tubuh dari demam ke hipotermi.
D.     Penatalaksanaan Terapeutik
v  Mempertahankan jalan nafas
v  Pemberian oksigen 100% untuk intoksikasi karbon monoksida.
v  Monitor analisa gas darah
v  Escharotomy
v  Terapi cairan; formula Parkland sering digunakan; pada anak 4 ml ringer laktat/kg berat badan/luas permukaan luka bakar, dalam 24 jam pertama setelah luka bakar.  Setengah jumlah cairan yang dihitung diberikan dalam 8 jam pertama setelah terjadinya cedera.  Setengah sisanya diberikan merata selama 16 jam berikutnya.  Pantau pengeluaran urin harus mencapai (1 ml/kg berat badan/jam).  Kemudian 24 jam kedua terapi cairan ringer laktat dengan dekstrosa 5%.  Terapi albumin dapat diberikan bila indikasi.
v  Monitor kelebihan cairan
v  Lakukan kateterisasi untuk memantau urine autput (pengeluaran urine)
v  Monitor serum elektrolit sesuai program.
v  Antibiotik untuk mencegah infeksi
v  Terapi analgetik
v  Perawatan luka harus steril
v  Hidroterapi
v  Terapi fisik
v  Skin graff bila indikasi
v  Monitor gravitasi urine atau berat jenis urine.
v  Penderita dengan luas luka bakar lebih dari 15 % tidak boleh diberikan cairan per oral pada awalnya karena dapat terjadi ilius.
E.     Penatalaksanaan Perawatan
Pengkajian
v  Pengkajian awal adalah menentukan kegawatan luka bakar.
v  Bila ringan atau sedang fokus pada penatalaksanaan nyeri dan perawatan luka.
v  Bila luka bakar berat, pengkajian meliputi; kepatenan jalan nafas, kaji vaskular, urine output (pengeluaran urine), tanda-tanda vital, gejala syok, intensitas nyeri, kaji luka, pantau analisa gas darah, pulse oximetry, dan kaji bising usus.
v  Kaji perilaku klien dan perubahan kesadaran.
Diagnosa Keperawatan
1.        Tidak efektif bersihkan jalan nafas dan gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru, injury pulmonal sekunder dari smoke Inhalation, karbon monoksida atau hipoksia.
2.        Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan luka bakar.
3.        Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari intravaskular ke dalam rongga interstisial dan hilangnya cairan secara evaporasi.
4.        Nyeri berhubungan dengan rusaknya ujung-ujung syaraf, trauma dan edema karena injury luka bakar, dan prosedur.
5.        Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar, injury thermal.
6.        Risiko infeksi berhubungan dengan hilangnya lapisan pelindung kulit sekunder dari luka bakar, atau luka yang terkontaminasi.
7.        Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme dan peningkatan kebutuhan kalori dan protein.
8.        Risiko gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan luka bakar, nyeri, gangguan pergerakan sendi, dan adanya pembentukan skar.
9.        Risiko tidak efektif termuregulator berhubungan dengan hilangnya panas dan perubahan mekanisme kulit untuk mempertahankan suhu tubuh.
10.      Gangguan citra tubuh, perubahan proses keluarga, tidak efektif coping keluarga, dan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan luka bakar.
Perencanaan
1.     Kepatenan jalan nafas dapat dipertahankan yang ditandai dengan saturasi oksigen dalam batas normal, jalan nafas dan bunyi nafas bersih.
2.     Anak akan menunjukkan pengeluaran urine lebih kurang atau sama dengan 1 ml/kg berat badan/jam untuk 24 jam pertama setelah injury dan tetap terpantau.
3.     Anak akan memperlihatkan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4.     Anak merasakan nyeri berkungan yang ditandai dengan anak dapat beristirahat dan beraktivitas sesuai kebutuhan.
5.     Luka bakar akan sembuh tanpa infeksi.
6.     Luka bakar akan mengalami penyembuhan tanpa infeksi, tidak ada sepsis, dan tidak ada infeksi pulmonal.
7.     Status metabolisme seimbang yang ditandai dengan berat badan stabil, serum elektrolit normal, penyembuhan luka yang cepat, intake makanan dapat dipertahankan 90% sesuai kebutuhan.
8.     Anak akan mencapai fungsi aktivitas yang optimum.
9.     Fungsi termuregulator dapat dipertahankan yang ditandai dengan suhu tubuh dalam batas normal.
10.  Klien dan keluarganya mengekspresikan perasaan tentang kondisi anak, pengobatan, prosedur dan partisipasi dalam perawatan anak.
Implementasi
1.    Mempertahankan kepatenan jalan nafas dan pertukaran gas;
v  Kaji status pernafasan setiap jam untuk 72 jam pertama.
v  Monitor analisa gas darah.
v  Monitor pulse oximetry
v  Pemberian oksigen sesuai program
v  Latihan nafas dalam dan batuk efektif setiap 1-2 jam sekali bila tidak tidur.
v  Tinggikan posisi kepala 15-30 derajat.
v  Pengisapan (suction) lendir bila perlu.
2.    Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat;
v  Berikan cairan intravena dan oral sesuai dengan kebutuhan dan pantau secara ketat.
v  Monitor urine output (pengeluaran urine) dan catat bila kurang dari 1 ml/kg berat badan jam dan lapor ke penanggung jawab.
v  Kaji tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit; hypokalemia dan hyperkalemia, hyponatremia dan hypernatremia, hypochloremia, hypercalcemia dan hypocalcemia.
v  Monitor status neurology
v  Monitor nadi perifer dan nadi bagian distal serta catat adanya perubahan dan lakukan kolaborasi.
3.    Mempertahankan volume cairan dalam batas normal;
v  Monitor tanda-tanda vital sampai stabil
v  Monitor pemasukan dan pengeluaran.
v  Timbang berat badan setiap hari.
v  Monitor elektrolit, Hgb, dan Hct.
v  Pemberian terapi intravena dan oral.
v  Pemberian kalium bila kalium rendah.
4.    Mengurangi rasa nyeri;
v  Kaji tingkat nyeri dengan skala 1-10
v  Catat HR, tekanan darah dan pernafasan
v  Pemberian obat nyeri 20-30 menit sebelum prosedur perawatan luka
v  Hati-hati dalam perawatan kulit.
v  Gunakan kontak taktil
v  Gunakan terapi distraksi
v  Kurangi hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri.
v  Lakukan pergerakan aktif dan pasif
v  Pengaturan posisi yang tepat.
5.    Meningkatkan penyembuhan luka dan integritas kulit;
v  Kaji luka pada fase akut: perubahan warna, kulit, membran mukosa dan kuku.
v  Rubah posisi setiap 2 jam atau sesuai kebutuhan klien terutama bagian tulang-tulang yang resiko menimbulkan decubitus.
v  Cegah adanya gesekan pada kulit.
v  Support dengan bantal pada bagian tertentu yang dibutuhkan.
v  Lakukan perawatan luka dengan steril; menggunakan sarung tangan, baju khusus, gunakan larutan normal saline yang steril untuk membersihkan luka.
v  Jaga agar kulit tetap kering.
6.    Mencegah infeksi :
v  Kaji luka selama mengganti balutan.
v  Gunakan teknis steril saat melakukan perawatan luka.
v  Kaji adanya sepsis; perubahan status neurology, hypothermia, demam oliguria.
v  Angkat eschar secara hati-hati.
v  Mencuci tangan dengan teknik aseptic setiap akan menyentuh
v  Bersihkan luka dengan larutan steril (normal saline)
v  Gunakan standar pencegahan universal; baju khusus, mencuci tangan, menggunakan masker (semua personel yang mendekati anak).
v  Pantau tanda-tanda vital; suhu, nadi.
v  Observasi luka; purulent dan drainage.
v  Pemberian antibiotik sesuai program.
7.    Meningkatkan status nutrisi yang optimum.
v  Berikan nutrisi; kue-kue atau makanan kecil yang tinggi, kalori dan protein.
v  Hindari nyeri saat prosedur karena nyeri dapat menurunkan nafsu makan.
v  Berikan vitamin dan mineral
v  Berikan makanan tambahan yang dapat menambah nafsu makan.
v  Antisipasi total nutrisi parenteral.
8.    Meningkatkan fungsi aktivitas.
v  Jelaskan pentingnya latihan dan lakukan latihan pergerakan aktif dan pasif.
v  Observasi kontriksi eschar khususnya persendian; kontraktor.
v  Ajarkan cara meningkatkan penggunaan fungsi pergerakan.
v  Pemberian analgetik sebelum melakukan aktivitas, bila perlu.
v  Tingkatkan aktivitas diri
v  Libatkan keluarga untuk melakukan pergerakan persendian, fleksi, ekstensi, rotasi, abduksi-abduksi.
9.    Meningkatkan fungsi termuregulator
v  Monitor tanda vital; suhu
v  Kaji kulit, dingin, perubahan warna dan pengisian kembali kapiler (capillary refill).
v  Observasi demam dan menggigil.
v  Hindari stress yang dingin.
10.  Meningkatkan konsep diri, koping yang positif dan pemahaman kondisi dan pengobatan.
v  Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan.
v  Jelaskan tentang kondisi luka bakar, perawatan dan pengobatannya dan jelaskan apa yang dapat dilakukan oleh keluarga.
v  Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan termasuk alasannya.
v  Kaji support sistem keluarga.
v  Demonstrasikan cara merawat luka dengan teknik aseptic.
v  Tenangkan klien dan keluarganya dengan komunikasi yang terapeutik.
v  Antisipasi perilaku regresi.
Rencana Pemulangan
v  Jelaskan resiko terjadinya luka bakar, dan pencegahannya.
v  Instruksikan untuk meningkatkan status nutrisi dengan mengkonsumsi makanan tinggi protein dan kalori, pemberian mineral dan vitamin.
v  Informasikan gejala-gejala komplikasi.
v  Tekankan pentingnya terapi fisik dan latihan yang teratur.
v  Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan.
v  Jelaskan hal penting dengan terjadinya perubahan kondisi; komplikasi dan segera lapor ke dokter atau perawat.
v  Jelaskan mungkin perlu dilakukan bedah plastik dan konsul ke ahli bedah plastik.

Referensi :
Brunner & Suddarth, (1996) Text Book of Medical-Surgical Nursing,
Suriadi & Yuliani, (2001) Asuhan Keperawatan pada Anak,